Rabu, 29 Februari 2012

Tak ada kata penyesalan





Bumi berputar pada porosnya, Cahaya di pagi hari menemani embun-embun yang menyejukan kulit. Burung berkicau-kicau, ranting yang menari-nari  oleh hembusan angin yang menyegarkan pikiran, membangunkan akal sehatmu. waktu terus berjalan,  20 tahun yang lalu kau dilahirkan oleh seorang ibu yang sampai sekarang masih menyayangimu. Seorang ibu yang menangis karena sangat gembiranya melihat  seorang anak perempuan yang lucu dengan mata yang indah, decak kagum dan rasa syukur diucapkan, berharap dan mendoakan anak pertamanya ini menjadi anak yang terbaik nantinya.
Waktu terus berputar dan tidak bisa kembali lagi. Seiring dengan berjalannya waktu, anak ini semangkin dewasa dan di hadapkan pada masalah – masalah yang tak kunjung selesai. Tuhan maha adil katanya, dia sangat yakin itu. Berharap segala masalahnya yg kompleks itu dapat di selesaikan dengan segera. Mimpi – mimpinya juga tak kala banyak di bandingan dengan masalah – masalahnya. Beberapa belas tahun yang lalu jika dia ditanya oleh seseorang “kamu besar mau jadi apa?” walaupun mimpinya begitu banyak dari pada teman-temannya, dengan gagah dia menjawab “aku mau jadi ibu kantin” walaupun sedikit aneh kederangannya tapi itu tampak gagah bagiku. J  belum pernah aku mendengar mimpi seperti itu, jika ditanya lagi dia dia akan menjawab aku ingin menjadi satria baja hitam, mau jadi sailormoon dan masih banyak lagi, menjadi pahlawan bukanlah hal yang mudah seperti seorang leonindas membawa 300 pasukannya dengan berani melawan xerxes yang pasukannya tak terihung dan terdiri dari segala makhluk mitos ataupun nyata. Leonindas meluncurkan sebuah tombak yang dipegangnya, dalam gerakan lamban tombak tadi meluncur lurus menuju Xerxes.
Dewa. Itu adalah sebutan Xerxes untuk dirinya sendiri. Raja Persia, Maha berkuasa, Maha tinggi, Maha suci, tak tersentuh, tak terkalahkan, tak tergoyahkan.
Tombak tersebut terbang dan meluncur tepat ke arah kepala xerxes. Tombak tersebut meleset,  hanya beberapa senti di samping kepala Xerxes. Merobek pipi dia yang mengaku tak tersentuh, sebelum kemudian tombak tersebut menancap ke papan kayu di belakang kepala Xerxes
Xerxes selamat, tapi matanya terbelalak, tubuhnya bergetar, keringat dingin, tangannya gemetar ketika memegang pipinya yang terluka
Seketika, Xerxes sempoyongan, kehilangan keseimbangan ketika dia melihat darah di telapak tangannya.. Darah dari pipinya yang sobek karena lemparan tombak Leonidas
Leonidas, tersenyum menang..
Tidak, Xerxes tidak mati.
300 tentara Sparta tidak memenangkan perang pada hari itu.
Tapi hari itu, Leonidas tersenyum penuh kemenangan. Leonidas tahu, ia telah berhasil melukai seseorang yang mengaku Dewa.
Leonidas tahu, ia telah berhasil menimbulkan sebuah perasaan yang tidak pernah muncul sebelumnya di benak Xerxes: Takut.
Leonidas tersenyum karena ucapannya terbukti:
“The world will know that free men stood against a tyrant, that few stood against many, and before this battle was over, even a god-king can bleed”
*****
Memang menjadi pahlawan seperti itu susah di zaman sekarang ini, tapi jadilah pahlawanku, pahlawan orang di sekitarmu. Kerena mimpimu saat ini adalah sebagai aktivis kemanusiaan yang  mempunyai misi sosial.  teruslah bermimpi, janganlah ragu akan berjuta – juta mimpimu itu, teruslah berusaha karena mimpimu lah yang menbuatmu dapat tersenyum, yang membuat mu terus bertahan hidup hingga detik ini.
Janganlah pernah berhenti bermimpi karena mungkin suatu saat semua mimpimu menjadi kenyataan. HAPPY BIRTHDAY  MY SWEET HEART J. *hug and kiss* wanti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar