Bumi berputar pada porosnya, Cahaya
di pagi hari menemani embun-embun yang menyejukan kulit. Burung berkicau-kicau,
ranting yang menari-nari oleh hembusan
angin yang menyegarkan pikiran, membangunkan akal sehatmu. waktu terus
berjalan, 20 tahun yang lalu kau dilahirkan oleh seorang ibu yang sampai
sekarang masih menyayangimu. Seorang ibu yang menangis karena sangat gembiranya
melihat seorang anak perempuan yang lucu
dengan mata yang indah, decak kagum dan rasa syukur diucapkan, berharap dan
mendoakan anak pertamanya ini menjadi anak yang terbaik nantinya.
Waktu terus berputar dan tidak
bisa kembali lagi. Seiring dengan berjalannya waktu, anak ini semangkin dewasa
dan di hadapkan pada masalah – masalah yang tak kunjung selesai. Tuhan maha
adil katanya, dia sangat yakin itu. Berharap segala masalahnya yg kompleks itu dapat
di selesaikan dengan segera. Mimpi – mimpinya juga tak kala banyak di bandingan
dengan masalah – masalahnya. Beberapa belas tahun yang lalu jika dia ditanya
oleh seseorang “kamu besar mau jadi apa?” walaupun mimpinya begitu banyak dari
pada teman-temannya, dengan gagah dia menjawab “aku mau jadi ibu kantin”
walaupun sedikit aneh kederangannya tapi itu tampak gagah bagiku. J belum pernah aku
mendengar mimpi seperti itu, jika ditanya lagi dia dia akan menjawab aku ingin
menjadi satria baja hitam, mau jadi sailormoon dan masih banyak lagi, menjadi
pahlawan bukanlah hal yang mudah seperti seorang leonindas membawa 300
pasukannya dengan berani melawan xerxes yang pasukannya tak terihung dan
terdiri dari segala makhluk mitos ataupun nyata. Leonindas meluncurkan sebuah
tombak yang dipegangnya, dalam gerakan lamban tombak tadi
meluncur lurus menuju Xerxes.
Dewa. Itu adalah sebutan Xerxes untuk dirinya sendiri.
Raja Persia, Maha berkuasa, Maha tinggi, Maha suci, tak tersentuh, tak
terkalahkan, tak tergoyahkan.
Tombak tersebut terbang dan meluncur tepat ke arah
kepala xerxes. Tombak tersebut meleset, hanya beberapa senti di samping kepala Xerxes.
Merobek pipi dia yang mengaku tak tersentuh, sebelum kemudian tombak tersebut
menancap ke papan kayu di belakang kepala Xerxes
Xerxes selamat, tapi matanya terbelalak, tubuhnya
bergetar, keringat dingin, tangannya gemetar ketika memegang pipinya yang
terluka
Seketika, Xerxes sempoyongan, kehilangan keseimbangan
ketika dia melihat darah di telapak tangannya.. Darah dari pipinya yang sobek
karena lemparan tombak Leonidas
Leonidas, tersenyum menang..
Tidak, Xerxes tidak mati.
300 tentara Sparta tidak memenangkan perang pada hari itu.
Tidak, Xerxes tidak mati.
300 tentara Sparta tidak memenangkan perang pada hari itu.
Tapi hari itu, Leonidas tersenyum penuh kemenangan.
Leonidas tahu, ia telah berhasil melukai seseorang yang mengaku Dewa.
Leonidas tahu, ia telah berhasil menimbulkan sebuah
perasaan yang tidak pernah muncul sebelumnya di benak Xerxes: Takut.
Leonidas tersenyum karena ucapannya terbukti:
“The world will know that free men stood against a
tyrant, that few stood against many, and before this battle was over, even a
god-king can bleed”
*****
Memang menjadi pahlawan seperti
itu susah di zaman sekarang ini, tapi jadilah pahlawanku, pahlawan orang di sekitarmu.
Kerena mimpimu saat ini adalah sebagai aktivis kemanusiaan yang mempunyai misi sosial. teruslah bermimpi, janganlah ragu akan berjuta
– juta mimpimu itu, teruslah berusaha karena mimpimu lah yang menbuatmu dapat
tersenyum, yang membuat mu terus bertahan hidup hingga detik ini.
Janganlah pernah berhenti bermimpi karena mungkin suatu
saat semua mimpimu menjadi kenyataan. HAPPY BIRTHDAY MY SWEET HEART J. *hug and kiss* wanti

Tidak ada komentar:
Posting Komentar